…Berhenti Merokok…

Hari itu, matahari berada tepat di atas kepalaku. Panasnya bukan main. Saking panasnya, aku sengaja menyediakan secerek air dingin tepat di belakang jendela kaca transparan, berdekatan dengan tempat di mana aku sedang mengerjakan sesuatu. Mengorek-ngorek cat ranjang besi dengan pisau karatan. Hal ini aku lakukan agar ketika nantinya di cat ulang, maka tak ada bias warna dari warna yang sebelumnya pernah ada pada ranjang besi itu. Keringatku tidak berhenti mengucur. Jadi sangatlah pantas jika aku menyediakan minuman dingin sebagai pelepas dahaga sekaligus pengganti cairan tubuh yang sedang banyak-banyaknya keluar melalui pori-pori tubuh siang itu.😥

Tak lupa aku menyediakan beberapa batang rokok di atas meja dalam ruang tamu rumahku. Jika sedang beristirahat sejenak, maka aku pun menyulutnya dan segera saja menikmati setiap tarikan asapnya. Hmmm… meskipun lelah, namun kenikmatan isapannya mampu menghilangkan secara spontan rasa lelah itu.

Entah berapa batang yang telah aku isap. Aku benar-benar lupa jumlahnya. Yang aku ingat bahwa di antara beberapa batang rokok itu, ada satu yang menjadi inspirasiku untuk menuliskan hal ini. Satu batang ini menjadi salah satu titik dalam hidupku, yang sejenak menyadarkanku bahwa merokok sama dengan kesia-siaan.

***

Ketika itu, tiba-tiba saja terbesit dalam benakku untuk berhenti merokok. Heran juga. Namun yang lebih mengherankan, tak ada sama sekali penolakan dalam diriku saat itu. Semuanya sepakat dalam empat kata, yaitu: “berhenti merokok sama sekali”. Dan mulai detik itu pula, setengah batang rokok yang masih tersisa itu aku jatuhkan tepat di depan kakiku, yang selanjutnya aku injak-injak seraya berkata: “Mulai hari ini aku berhenti merokok”.

Hari demi hari aku lalui tanpa ada lagi sebatang rokok menemani. Perasaan tersiksa yang awalnya tak ada ketika aku mengikrarkan janjiku, mulai timbul tenggelam. Perlahan tapi pasti, aku menyadari bahwa ada suatu hari dimana perasaan itu akan begitu menyiksaku. Dan sebelum hari itu tiba, aku harus mencari cara untuk setidaknya mengurangi rasa sakit atas penyiksaan itu. Dan karena aku sadar dan aku akui hal itu, maka cara yang aku cari pun silih berganti aku temukan.

Tidak bergaul dengan teman yang perokok, adalah cara pertama. Cukup efektif untuk minggu-minggu dimana aku sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah, yang ternyata mengurangi jatah waktu untuk bergaul dengan teman-teman.  Namun, aku kembali sadar bahwa tidak selamanya aku dapat menyibukkan diri dengan semua pekerjaan itu. Suatu hari nanti, aku yakin akan kembali bergaul dengan teman-teman sebayaku. Dan sekali lagi, karena aku menyadari hal itu, maka aku pun harus mencari cara baru untuk berhenti selain cara pertama tadi.

Bergaul dengan teman yang bukan perokok, merupakan pilihan selanjutnya. Seperti cara pertama, cara ini pula tergolong efektif. Tak ada hambatan yang berarti untuk menerapkannya. Karena aku juga punya banyak teman yang bukan perokok. Akan tetapi, aku akhirnya menyadari bahwa teman-teman jenis ini adalah teman yang tiap kesehariannya adalah kesibukan. Berbeda denganku yang kesibukan itu hanya datang menyapaku sesekali saja. Selanjutnya aku lebih banyak “menganggurkan diri”. Akhirnya aku pun harus mencari cara lain lagi.

Dalam pencarianku selanjutnya, aku banyak berdiskusi dengan teman yang “mantan perokok”, baik itu perokok ringan maupun perokok berat. Aku belajar dari mereka. Aku sering bertanya tentang kiat-kiat, tips dan trik yang mereka pakai untuk berhenti merokok. Banyak yang aku peroleh dari mereka, salah satunya adalah dengan mencari pengganti rokok itu, yang dalam ilmu ekonomi barang pengganti itu dikenal dengan istilah: “barang subtitusi”. Selain kiat itu, aku sepertinya tak mampu untuk menerapkan. Dan selanjutnya mereka umumnya menyarankan permen sebagai penggantinya. Pilihanku pun jatuh pada permen Plong dan Relaxa😀

Meskipun telah menjatuhkan pilihan, aku tidak langsung menerapkannya. Aku belajar dari pengalamanku sebelumnya dimana pada akhirnya nanti aku harus kembali mencari cara baru. Dan pada suatu malam, aku akhirnya mendapatkan ide yang menurutku waktu itu adalah ide orisinalku, dan aku sebut dengan “Combination Way”. Yup…! Cara kombinasi artinya, dimana semua cara yang pernah aku terapkan dikombinasikan menjadi satu. Tidak seperti satu kesatuan yang utuh, melainkan keberagaman yang saling melengkapi satu sama lain. Yang artinya pula, aku tidak harus menerapkan semua cara itu secara bersamaan, tapi berdasarkan pengamatan waktu dan kondisi dimana aku berada nantinya. Cukup efektif menurutku, dan pada saat itu memang tidak ada pilihan lain lagi selain cara terakhir itu.

Bukti berhasilnya cara terakhir itu adalah sikap pasifku untuk kembali mencari cara yang lain. Aku “off” menjelajah kesana-kemari, dan aku juga tetap “off” merokok. Benar-benar efektif ! Itulah yang jelas terlintas di pikiranku. Hingga aku akhirnya tiba pada titik selanjutnya dalam kehidupanku😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: