Se’re Tampa’ Makasuaraka

Kalau ada tempat atau daerah yang paling ramai pada malam hari di kota Daeng, maka salah satu daerah tersebut adalah Nusantara. Daerah ini dinamakan demikian sesuai dengan nama jalannya, yaitu Jalan Nusantara. Dan kalau ada orang yang bertanya mengapa daerah itu ramai pada malam hari, maka mari bersama-sama kita simak bagaimana kondisi daerah tersebut sebenarnya…🙂

Daerah Nusantara adalah daerah yang letaknya strategis. Daerah ini berdampingan dengan Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta, Makassar. Letaknya juga bersebelahan dengan Pantai Losari yang merupakan salah satu tujuan wisata di Kota Daeng ini. Selain itu, daerah ini juga berdekatan dengan pusat kota. Dan karena letaknya yang strategis inilah yang membuatnya begitu ramai dan selalu “hidup” tiap malamnya. Namun demikian, ada satu hal lagi yang merupakan ciri khas utama daerah ini, yang mungkin akan menjawab mengapa tiap malam ia selalu ramai dikunjungi oleh para lelaki paruh baya ataupun setengah tua bahkan sampai tua sekalipun. Yup, karena daerah ini bagi para lelaki mempunyai daya tarik tersendiri yang hanya mereka dapati pada malam hari. Tiada lain dan tak bukan karena daya tarik wanita-wanita malamnya.

Kalangan pengamat sosial dan lingkungan menamai daerah ini sebagai daerah prostitusi, yang merupakan perhalusan kata dari daerah seks komersial. Seks yang diperjualbelikan tepatnya. Kalangan agamis menjuluki daerah ini sebagai daerah kotor, hina dan mungkin tidak pantas untuk ada di Kota Daeng ini. Kalangan ibu rumah tangga menyebut daerah ini sebagai tempat pelacuran. Kalangan lelaki pencari nafsu sesaat menyimbolkannya sebagai pemuas nafsu birahi. Namun apapun julukannya, bagi saya daerah ini adalah suatu fenomena tersendiri yang merupakan bagian dari eksistensi sebuah kota besar di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Hampir semua kota yang bergelar Kota Besar mempunyai daerah seperti ini (meskipun mungkin tidak semuanya). Daerah yang muncul akibat kelihaian membaca kebutuhan dasar seorang manusia. Kebutuhan dasar akan pemuasan nafsu birahi yang tidak pada tempatnya. Daerah yang tumbuh dan berkembang dengan suburnya karena keadaan ekonomi yang makin hari makin sulit, sehingga memaksa seorang untuk melakukan apa saja atas nama kebutuhan ekonomi, meskipun sangat bertentangan dengan nilai-nilai murni agama dan walaupun mengorbankan segala-galanya termasuk harga diri dan kemolekan tubuh seorang wanita.

Tidak bisa dipungkiri kalau daerah seperti ini akan selalu ada berdampingan dengan arus kehidupan modernitas. Ia seakan-akan menjadi kebutuhan tersendiri dalam era modernitas tersebut. Zaman di mana segalanya dapat diperoleh secara instan, mengotomatiskan dirinya untuk pemuasan nafsu yang instan pula. Zaman di mana etika ketimuran perlahan-lahan pudar akibat terjangan budaya barat yang menganut paham “free” di segala bidang. Zaman di mana seakan-akan tidak ada waktu untuk berhenti sejenak, meskipun pada malam hari karena segalanya selalu bergerak baik mundur ataupun maju🙂

Sebagai seorang lelaki tulen, saya pun sebenarnya tertarik untuk berkunjung kesana. Namun karena terlalu sering membaca bahayanya jika mengunjungi tempat semacam itu, saya akhirnya mengurungkan rasa tertarik itu. Penyakit seks yang bisa menular ke siapa dan kapan saja tanpa pandang bulu. Efek candu yang akan memaksa seseorang untuk mengorbankan rezeki yang ia perolehnya hanya untuk memuaskan hawa nafsunya, yang juga terkadang memaksa seseorang untuk melakukan kejahatan (mencuri, dll) hanya untuk pemuasan naluri hewani yang berdurasi sekian menit saja. Tak jarang pula rumah tangga seseorang akan “ambruk” seketika karenanya dan masih banyak lagi dampak buruk lainnya. Kesemuanya itu menjadi bahan pertimbangan yang perlu dipikirkan masak-masak sebelum membulatkan tekad menginjakkan kaki di daerah itu.

Pernah suatu ketika saya membaca di Koran tentang niat Pemerintah Daerah untuk menanggulangi dampak buruk daerah seperti ini. Rencananya daerah tersebut akan dipindahkan ke salah satu pulau yang masih merupakan wilayah teritorial Makassar atau bahasa kerennya disebut dengan “lokalisasi”. Hal tersebut dimaksudkan agar para pemuas nafsu birahi akan berpikir dua kali sebelum mengunjungi tempat tersebut jika berada di pulau seberang. Rencana tersebut sempat menjadi wacana yang hangat diperbincangkan. Ada yang pro, namun tak sedikit yang kontra. Sedangkan yang lainnya abstain dan berharap-harap cemas kalau-kalau rencana tersebut jadi terlaksana🙂 Akan tetapi suara yang kontra dengan rencana itu sangat bergema. Alasan mereka bahwa tempat tersebut tidak boleh dilokalisasi karena hal itu sama dengan menghalalkan perzinahan. Dan akhirnya, rencana itu pun hanya sampai pada taraf wacana dan tidak pernah kesampaian perwujudannya.

Entahlah siapa yang benar dalam hal ini. Yang jelas daerah itu hingga saat ini masih ada. Dilarang namun tetap eksis. Tidak dibiarkan namun terus berkembang hingga detik ini. Untuk saat ini, solusi yang paling baik kembali pada diri kita masing-masing. Apakah kita bisa sepakat untuk tidak mengunjungi daerah itu? Karena dengan begitu pendapatan yang mereka peroleh akan menurun, sehingga memaksa pemiliknya untuk satu per satu menutup usahanya. Namun benarkah kita mampu sepakat? Padahal dalam hal selera, kita selalu saja berbeda satu sama lain. Saya sendiri pun secara jujur mengakui tidak adanya jaminan bahwa saya akan terus bertahan untuk tidak mengunjungi tempat itu. Satu-satunya harapan saya adalah semoga kehidupan tidak pernah memberi saya alasan untuk mengunjungi Tampa’ Makasuaraka itu.

Semoga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: