Sebuah review: Surat Kecil Untuk Tuhan

Pertama kali melihat sampulnya, seakan-akan kerinduanku menguap laksana uap dari air yang mendidih. Melayang ke atas kemudian menghilang. Berganti dengan perasaan bahagia yang kata-kata tak mampu untuk melukiskannya.

Sudah berbulan-bulan aku mencari buku ini. Buku yang bercerita tentang perjuangan gadis cilik melawan kanker ganas yang pada akhirnya, memisahkan gadis itu dengan semua orang yang dicintainya; dan dengan segala kenikmatan yang pernah diperolehnya ketika masih dapat menghirup udara segar dulu…Mataku tidak ingin terpejam sedikitpun. Jari-jariku tidak bosan-bosannya membolak-balikkan lembaran demi lembaran dari buku itu. Rasa ingin tahuku tentang cerita gadis cilik itu semakin memompa semangatku untuk segera membaca buku itu hingga tuntas. Namun aku tidak sadar, ketika lembaran terakhir aku baca, adzan shubuh ternyata sedang menggema di luar sana. Memanggil orang-orang beriman untuk segera meninggalkan kenikmatan tidur dan menggantikannya dengan kenikmatan bercumbu rayu dengan Sang Khalik.

Tetes air mata menjadi saksi bisu akan kesedihan yang tersaji dalam buku itu. Kepiluan, penderitaan, tawa canda, dan indahnya cinta semakin membuat pembacanya larut dalam cerita. Untuk setiap orang yang pernah membacanya, dari dalam hati mereka tumbuh kasih sayang dan kesadaran untuk menghargai hidup ini yang ternyata berlangsung dalam waktu yang cukup singkat.

Kita ditantang untuk berjuang dalam hidup, namun juga kita diajak untuk sejenak merenungi apa yang telah kita lakukan. Kita diajak untuk tertawa dengan keceriaan gadis ini, namun tak jarang dibuat menangis oleh penderitaan yang dialaminya. Kanker yang menjadi penyakit ganas bagi umat manusia, menimpanya. Bahkan tidak hanya sekali, melainkan dua kali. Ketika ia sembuh pertama kali, tampak keceriaan yang tergambar dalam buku itu. Kebahagiaan yang tidak permanen karena telah lolos dari maut. Namun ketika kanker menyerangnya untuk kali yang kedua, gadis cilik itu telah tahu, bahwa hidupnya akan berakhir. Ia pun mengikhlaskan segalanya; mengikhlaskan perpisahan dengan orang-orang yang ia cintai; mengikhlaskan kehilangan kenikmatan dunia yang pernah ia rasakan; dan mengikhlaskan cinta yang telah membuatnya kuat menjalani penderitaan. Ia telah ikhlaskan semuanya sebagaimana ikhlasnya orang-orang yang dicintainya untuk melepaskan kepergian gadis itu. Namun sebelum kepergiaannya, ia punya sepucuk surat untuk Tuhannya, sebagai permohonannya yang terakhir. Sekaligus menitipkan harumnya bunga melati untuk tiap insan yang mencintai dan menyayanginya…

3 Balasan ke Sebuah review: Surat Kecil Untuk Tuhan

  1. angel mengatakan:

    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1314169&page=15

    ikutan nonton aja mas di kick andy

    soalnya bukunya mau diangkat ke sana loh

    atau hubungin agnes davonar

    http://www.friendster.com/agnesdavonar

  2. Ahsan mengatakan:

    kalau Film-nya dah di-DVD-in belom???

  3. Ardy al-Rawali mengatakan:

    waduh, ane kurang tau kalo ttg filemnya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: