Di Desak Lagi…

Untuk kesekian kalinya, aku mendapat desakan dari Sekretaris Jurusan agar segera mengerjakan skripsi yang masih dalam tahap perencanaan itu. Bisa gila nantinya kalau terus-terusan didesak. Tapi apa mau dikata, karena tiap hari hampir saja selalu bertemu dengan Ibu yang terkenal sangat perhatian itu. Akhirnya, hampir tiap hari pula aku mencari alasan-alasan yang membuatnya semakin kecewa terhadapku…

“Apa susahnya mengerjakan skripsi?” Katanya seraya meninggikan suaranya agar terdengar lebih tegas.

“Sebenarnya tidak susah Bu, cuma…” Jawabku segera sambil mencari alasan yang tepat.

“Cuma apa? Cuma malas? Itu khan alasanmu?” Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-kata itu.

Tiap hari ketika bertemu, pertanyaan itu yang sering dilontarkan. Dan selalu saja akhirnya saya harus terdiam mendengarkan nasehat-nasehat yang itu-itu juga. Bosan rasanya. Ingin lari, tapi sayangnya aku juga tidak tahu harus lari kemana.

Denting jam yang terpajang di dalam perpustakaan jurusan seakan mengajak aku terdiam merenungi setiap kata yang ibu tadi lontarkan. 5 hari dalam seminggu aku harus selalu berhadapan dengan penyiksaan pikiran dan penderitaan bathin. Seakan tidak ada jalan lain ataukah tempat lain agar aku bisa bersembunyi dari hal yang sering berulang itu.

“Lari!” Kataku dalam hati.

“Tapi apakah lari akan menyelesaikan masalah?” Tanyaku berbalik

“Tidak!” Jawabnya singkat

“Lalu kenapa harus lari?” Selidikku

“Agar tidak terlalu dipikirkan” Jawabnya santai

Lari bukanlah jalan untuk menghindari apa yang sedang aku hadapi. Itu bukan pilihan. Lari adalah sebuah pertanda akan lemahnya diri dalam menghadapi kuatnya tantangan hidup. Dan karenanya, aku tidak akan lari dari penderitaan itu.

Didesak mengerjakan skripsi bukan berarti didesak untuk segera meninggalkan kampus. Tidak, sama sekali tidak demikian artinya. Melainkan agar kebosanan untuk melihat wajahku yang itu-itu saja dapat segera menguap, seperti menguapnya air yang dipanasi dalam suhu 100%. Mungkin seperti itu maksudnya, meskipun aku sadar kalau maksud itu salah.

Jalan terbaik adalah melakukan apa yang ingin aku lakukan. Tidak boleh ada seorangpun yang mengontrol hidupku. Aku harus hidup di atas pilihanku sendiri. Tidak boleh ada yang memilihkan. Aku adalah aku dengan segala keakuanku. Dan kalau tidak mengerjakan skripsi adalah pilihanku, maka biarlah aku yang menerima akibatnya nanti…

Satu Balasan ke Di Desak Lagi…

  1. Ifha mengatakan:

    yup…

    life is a choice..

    you must make a decide which is the best for you..
    but I think, sometimes you must heard some of people give a suggestion for you..

    Ok..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: