Berlapang dada…

Kemarin, pagi hari tepatnya sekitar pukul 09.00 waktu Makassar dan sekitarnya, aku berniat untuk membayar iuran air dan listrik untuk bulan ini. Loket yang pertama kudatangi adalah loket pembayaran rekening listrik karena letaknya tidak jauh dari rumah. Hanya beberapa belokan-belokan kecil yang memisahkannya dari tempat saya berdiri ketika memakai baju. Tidak ada masalah dengan rekening listrik ini, tapi yang selanjutnyalah yang menjadi masalah sehingga hari ini aku kembali belajar tentang sesuatu yang begitu indah…

Loket pembayaran air cukup jauh letaknya dari rumah. Olehnya itu, aku meminjam motor dari salah satu teman kampus. Dengan kondisi yang masih melihat dua jari telunjuk dengan jumlah empat, aku menuju ke tempat itu. Pusing rasanya kepalaku karena kurang tidur semalam. Tambah lagi dengan kurang tidurnya malam sebelumnya. Kepala rasanya berat sekali. Seperti memakai helm yang terbuat dari besi saja rasanya.

Tiba di loket pembayaran, aku harus antri selama setengah jam. Itu pun belum termasuk dengan masalah yang muncul tiba-tiba secara tak disangka.

“Baharuddin!!! Baharuddin Dg. Muntu!!!” Tidak ada seorang pun yang menyahut panggilan itu. Hampir saja aku menyahutnya, tapi itu bukan nama ayahku. Sama sekali bukan. Nama Daeng yang disandingkannya sama sekali berbeda dengan nama Daeng ayahku. Aku kembali membaca koran, dan orang-orang kembali sibuk dengan antriannya masing-masing.

Sekian lama menunggu panggilan, akhirnya aku gelisah. Aku segera menghadap ke petugas yang melayani pembayaran tersebut. Aku menanyakannya dan ia mengatakan bahwa nama ayah saya telah dipanggil-panggil sebelumnya. Dan parahnya lagi, ia berkata seperti itu dengan nada yang agak tidak mengenakkan di telinga. Namun aku mengerti dan tetap tersenyum. Aku menunggu dan nama Baharuddin akhirnya dipanggil ulang. Aku bayar dan aku heran…

Nama yang tercantum dalam rekening pembayaran tersebut adalah Baharuddin Dg Muntu. Jelas sekali itu bukan nama ayahku. Dengan nada sedikit lembut, aku komplain kepada petugasnya. Namun ia malah berbalik marah padaku. Aku bisa saja marah dan melampiaskan rasa sakit kepala yang sedari tadi bercokol di kepalaku. Namun tidak kulakukan. Aku hanya mendengarkan ocehannya dengan sedikit manggut-manggut tanda setuju dengan yang ia katakan. Aku tahu bahwa bagaimanapun perlawanan yang aku lakukan, pada akhirnya nanti ia tetap tidak ingin dipersalahkan. Dan mengalah adalah keputusan terbaik yang patut aku ambil saat itu juga.

Seorang yang lebih bijaksana datang untuk menyelesaikan masalah. Ia berkata agar aku pulang mengambil tanda pembayaran yang asli di rumah. Aku setuju. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu berapa yang harus kubayar untuk bulan ini. Tapi sang petugas yang wajahnya saja menyenangkan namun kata-katanya tidak itu kembali mengoceh. Ia melarang temannya untuk menyetujui permintaan saya. Emosi saya hampir memuncak dan meledak, namun saya menahannya dan memilih untuk segera meninggalkan ruangan itu.

Aku pulang dengan hati yang kesal namun berusaha untuk aku tenangkan. Sesampainya di rumah, aku segera mencarinya dengan lebih teliti. Dapat!. Segera saja saya kembali meluncur ke kantor PDAM tersebut. Sesampainya di sana, saya langsung menuju petugas yang tadi banyak mengoceh tersebut. Tidak untuk melakbraknya. Tapi untuk mengkonfirmasi mengenai nama dalam rekening pembayaran tersebut. Ia sepertinya sudah lebih tenang dibanding sebelum saya tinggalkan. Dan betul saja, ia melayani saja dengan lebih baik.

Dengan nada sedikit lebih halus, saya berkata bahwa sayalah yang bersalah karena tidak teliti melihat nama bulan sebelumnya sehingga nama kami tertukar. Dan ia pun ingin agar orang yang bernama Baharuddin Dg Muntu tersebut saya datangi karena rumahnya dekat dengan kantor PDAM tersebut. Saya cuma tersenyum sambil berkata: “Tidak usah Bu. Biar mi saja.” Tetapi ia tetap memaksa, tapi dengan satu kalimat yang ringkas saya tolak paksaan tersebut. “Tidak usah Bu. Cukup sampekan saja salamku kalo Beliau datang ke sini” Dan saya segera berlalu dengan hati yang senang.

“Ternyata lapang dada itu sangat menyenangkan.” Lirihku dalam hati…

Satu Balasan ke Berlapang dada…

  1. Ifha mengatakan:

    sometimes, we must correct ourself.

    but I proud with you coz “bs berlapang dada”

    it’s my boyfriend…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: