Petani Desa Nisombalia

Desa Nisombalia adalah salah satu desa yang berada di lingkup Kecamatan Marusu. Kecamatan Marusu sendiri adalah salah satu kecamatan dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Maros. Uniknya kecamatan ini adalah karena ia berbatasan langsung dengan Kota Makassar. Sewaktu penulis ber-KKN di daerah ini, barulah penulis mengetahui mengenai keberadaan daerah ini. Meskipun berbatasan dengan kota Makassar, ia begitu asing bagi penulis.

Sesuai dengan bidang penulis yang berbasis pertanian, maka ketertarikan penulis terhadap daerah ini, terkhusus desa Nisombalia, adalah tentang pertanian mereka. Meskipun mereka juga bagian dari Kabupaten Maros yang notabene adalah salah satu penghasil beras di Provinsi Sulawesi Selatan, tetapi pertanian mereka jauh tertinggal dibanding daerah lainnya. Contoh nyatanya adalah jika di daerah lain mampu menanam padi sebanyak 3 (tiga) kali, maka di desa ini -desa Nisombalia tentunya- hanya sekali dalam setahun. Kenyataan ini kemudian membuat penulis tertarik untuk mengetahui penyebabnya lebih dalam.

Penulis melakukan beberapa kali wawancara dengan petani setempat. Mereka umumnya mudah ditemui dan sangat santun memperlakukan tamunya. Dari beberapa wawancara tersebut, penulis mengetahui penyebab utama mengapa penanaman padi di desa ini cuma sekali adalah karena tidak adanya sistem irigasi (pengaturan air). Ketiadaan sistem irigasi tersebut mengakibatkan petani menggantungkan kebutuhan air untuk usahataninya dari hujan yang turun. Hal ini biasa dikenal dengan “tadah hujan”. Sehingga sawah yang ada di daerah ini, semuanya adalah sawah tadah hujan.

Di samping penyebab di atas, masih ada beberapa penyebab lain yang semakin memperjelas ketertinggalan bidang pertanian di desa ini. Salah satunya lagi adalah tidak adanya saluran pembuangan air. Diketahui bahwa fungsi saluran pembuangan adalah untuk membuang air ketika tidak lagi dibutuhkan atau membuang kelebihan air. Dengan tidak adanya saluran pembuangan tersebut, sawah petani ketika hujan deras turun akan kebanjiran. Dan tentunya hal ini sangat merugikan bagi petani. Tidak jarang mereka harus berulang kali melakukan penanaman karena banjir yang juga berulang kali melanda sawah mereka. Dan tidak jarang pula di antara petani ada yang sengaja tidak menanami sawahnya karena benih mereka telah habis setelah melakukan penanaman berulang kali.

Menariknya pertanian di desa ini adalah bahwa petani mereka tidak ketinggalan informasi mengenai perkembangan pertanian. Sistem pertanaman “Jajar Legowo” misalnya, telah diterapkan oleh petani meskipun untuk saat ini masih petani-petani tertentu yang menerapkannya. Akan tetapi, dengan adanya masalah-masalah yang tersebut di atas sebelumnya, membuat petani lainnya seakan-akan “malas” untuk menerapkan setiap informasi yang mereka peroleh.

“Buat apa diterapkan kalau hasilnya saja tidak pasti ada…” Demikian kata seorang petani. Ada benarnya juga pendapat petani tersebut. Ketidakpastian apakah tanaman padi mereka akan berhasil berbuah atau tidak adalah pertanyaan pertama yang harus mereka ajukan sebelum menerapkan setiap informasi atau ajakan dari pemerintah melalui para penyuluh. Dan sekarang, pertanyaan baru kembali terlontar kepada pemerintah, apakah akan menyelesaikan masalah petani di desa ini atau tidak?

Tinggalkan Balasan